4 Dampak Pemberlakuan PPKM Darurat Bagi Pengusaha Truk

Published 12 Jul 2021 in Uncategorized by flits_wpadmin

Selama dua minggu, pemerintah menerapkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat yang berlangsung selama 3 – 20 juli 2021. Tujuan diberlakukannya regulasi ini adalah mengurangi mobilitas aktivitas masyarakat demi menekan penyebaran virus covid-19 yang kasus hariannya makin meledak jumlahnya.

Ilustrasi truk kontainer (Foto: kompas)

Pembatasan kegiatan masyarakat ini memang sekilas terlihat sangat baik untuk mengurangi jumlah orang yang terpapar virus covid-19, namun tanpa persiapan yang matang, mulai dari sosialisasi pengalihan rute jalan, keringanan biaya operasi usaha untuk sektor esensial, dan informasi lainnya bisa memberikan dampak buruk untuk berbagai bidang usaha, pengusaha truk misalnya.

Sekalipun bidang usaha ekspedisi tetap diizinkan beroperasi karena masuk kategori esensial, namun ppkm tetap memberikan imbas terhadap produktivitas kerja dan omzet bisnis yang menurun drastis. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa baca uraian lengkap mengenai dampak PPKM darurat terhadap pengusaha truk lewat ulasan berikut ini;

Dampak PPKM Terhadap Bisnis Jasa Pengiriman Barang dengan Truk Ekspedisi

Sebagai lini jasa yang berperan vital dalam kelangsungan ekonomi negara, sektor bisnis pengiriman barang yang dilakoni para pengusaha truk juga tak luput menuai imbas dari pemberlakuan ppkm. Ini dia dampak ppkm yang dirasakan oleh para pengusaha truk dan karyawannya saat bekerja di masa pandemi.

 

1. Biaya Operasi Pengiriman Barang Jadi Membengkak Akibat Pengalihan Jalur Truk ke Jalan Tol

Selama pemberlakuan kebijakan ppkm, minimnya sosialisasi pengalihan jalan kepada pelaku bisnis pengiriman barang. Alhasil, banyak karyawan supir truk yang tidak mengira kalau jalur pantura yang awalnya dibuka, kini dialihkan harus melalui jalan tol.

Pengalihan jalur truk ke jalan tol memberatkan pengusaha truk karena harus menambah budget yang dikeluarkan untuk biaya tak terduga selama ppkm, masih untung kalau ada margin profit tipis yang bisa diputar kembali untuk modal bisnis atau membayar karyawan, tapi kondisi ideal ini tidak mungkin dialami oleh semua pemilik usaha, bukan? 

Alhasil, banyak pengusaha truk yang berharap jalur pengiriman barang, khususnya pantura dibuka kembali dengan alasan yang melewati jalur ini adalah jasa di bidang kritikal / esensial. Kalaupun tidak bisa, pengusaha truk berharap untuk mendapat keringanan pengurangan biaya tol untuk supir truk. Hal ini tentu bisa meringankan biaya operasi bisnis saat mengirimkan barang ke jawa tengah, jawa timur, atau bahkan bali.

 

2. Produktivitas Pekerja Menurun

Menyoal poin sebelumnya, dikarenakan sopir truk dialihkan jalurnya ke jalan tol, itu berarti mereka tidak bisa mencari tempat beristirahat yang lokasinya mudah dijangkau karena di jalan tol, supir baru bisa berhenti di rest area, bagaimana kalau jaraknya sangat jauh sedangkan sopir sudah kelelahan? 

Hal ini bisa berakibat fatal, kecelakaan di jalan tol misalnya, paling minimal, pengiriman barang tidak tepat waktu. Dari sini saja, ppkm berimbas pada produktivitas pekerja yang menurun.

 

3. Kenaikan Biaya Operasional Akibat Regulasi Supir Harus Menunjukkan Swab Antigen Negatif Selama di Perjalanan

Selama pemberlakuan ppkm ini, supir harus menunjukkan hasil swab antigen negatif setiap kali melintasi wilayah perbatasan yang dijaga petugas. Dan bagian merugikannya, masa berlaku tes swabnya hanya 1×24 jam, biayanya 250 ribu. 

Asumsikan supir mengirimkan barang ke jawa timur atau bali yang menghabiskan waktu minimal 3 hari. Itu berarti sekali perjalanan, supir harus mengeluarkan uang 750 ribu untuk swab antigen. Belum lagi, apabila mengirimkan barang ke luar pulau, supir diminta menyertakan hasil tes PCR negatif yang harganya 700-800 ribu. Tentu ini menambah biaya operasional pengusaha truk di masa sulit ini.

4. Omset Pengusaha Jasa Truk Anjlok

Dengan adanya PPKM darurat pelaku usaha jasa angkutan truk rata-rata mengalami penurunan pengiriman hingga 50 persen sejak penerapan kebijakan pembatasan darurat itu. Penurunan pengiriman barang ini kemungkinan akan bertambah karena PPKM masih terus diberlakukan hingga 20 Juli. Dengan menurunnya pengiriman, otomatis omzet pengusaha jasa truk juga ikut anjlok. 

Nah itu dia ulasan mengenai dampak PPKM darurat terhadap pengusaha truk di Indonesia. Bagi Anda pengusaha jasa truk yang ingin work from home alias bekerja dari rumah, Flits.id menyediakan software TMS modern berbasis cloud yang bisa membantu Anda dalam mengelola order penjualan, tracking kendaraan, perawatan kendaraan, sampai pembukuan dan laba/rugi per kendaraan secara online darimanapun dan kapanpun. Bila Anda tertarik, bisa langsung cari tahu informasinya di flits.id

Latest News

Mengenal Jenis-jenis Karoseri Truk

Karoseri, diambil dari bahasa Belanda carrosserie, adalah penutup kerangka atau bagian utama kendaraan bermotor. Industri karoseri merancang dan membangun muatan di atas sasis atau kerangka internal yang sudah ada layaknya...

5 Tips Memilih Sistem TMS Yang Tepat Untuk Usaha Anda

Memilih sistem TMS (Transportation Management System) yang andal memang tidak mudah. Sistem TMS pada umumnya digunakan oleh perusahaan ekspedisi truk 5 sampai 10 tahun kedepan dan rata-rata membutuhkan biaya investasi...

4 Tips Merawat Ban Truk Agar Tetap Awet

Ban adalah salah satu biaya operasional terbesar bagi perusahaan ekspedisi truk setelah bahan bakar. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemilik usaha angkutan truk untuk memastikan agar ban truk memiliki...

Pakai Ban Vulkanisir, Bahaya atau Tidak?

Ada dua jenis ban yang biasanya digunakan kendaraan besar seperti bus atau truk. Ban tersebut ialah ban keluaran pabrik dan ban vulkanisir. Ban pabrikan pasti sudah tak asing lagi di...
Subscribe for News

For updates and exclusive offers,
enter your e-mail below.